Implementasi
Inovasi Pendidikan dan Kompetensi Guru SERTA peng aruhnya
terhadap Produktivitas Sekolah
Oleh : Safran
Efendi Pasaribu
Abstrak
Penulisan makalah ini bertujuan
untuk mengetahui implementasi inovasi pendidikan dan kompetensi guru serta pengaruhnya
terhadap produktivitas sekolah. Penulisan makalah ini menggunakan metode
tinjauan literatur (library research). Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa
implementasi inovasi pendidikan memiliki hubungan yang positif dengan
produktivitas sekolah. Artinya semakin baik implementasi inovasi pendidikan,
maka akan semakin baik produktivitas sekolah. Kompetensi guru memiliki hubungan
yang positif terhadap produktivitas sekolah. Artinya semakin baik kompetensi
guru, maka akan semakin baik produktivitas sekolah. Implementasi inovasi
pendidikan dan kompetensi guru memiliki hubungan yang positif dengan
produktivitas sekolah. Artinya semakin baik implementasi inovasi pendidikan dan
kompetensi guru, maka akan semakin baik produktivitas sekolah.
Kata
kunci : inovasi
pendidikan, kompetensi guru dan produktivitas sekolah
1.
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Perubahan paradigma
dan sistem manajemen sekolah dengan penerapan konsep manajemen berbasis sekolah
diharap-kan akan meningkatkan produktivitas sekolah. Produktivitas dalam dunia
pendidikan berkaitan dengan keseluruhan proses penataan dan penggunaan sumber
daya untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Dalam konteks
produktivitas pendidikan, sumber-sumber pendidikan dipadukan dengan cara-cara
yang berbeda sesuai dengan kemampuan sekolah masing-masing.
Produktivitas sekolah dapat diukur
dengan menggunakan tiga indikator menurut Thomas (2003) (dalam Karyana, 2003:
53) sebagai berikut: The Administrators Production Function (produktivitas
ditinjau dari segi keluaran administratif), yaitu seberapa besar dan seberapa
baik layanan yang diberikan oleh guru dalam memberikan proses pendidikan; (2) The
Psychologist Production Function (produktivitas ditinjau dari segi
perubahan perilaku), yaitu dengan melihat nilai-nilai yang diperoleh peserta
didik sebagai suatu gambaran dari prestasi akademik yang telah dicapainya dalam
periode belajar tertentu di sekolah; dan (3) The Economist’s Production
Function, melihat produktivitas dari segi keluaran ekonomis yaitu
perbandingan antara layanan yang diberikan dengan hasil yang diperoleh siswa.
Kepala sekolah sebagai pengelola
lembaga tersebut dituntut mampu membuat inovasi sekolah agar memberikan
pelayanan kepada peserta didik dan menunjukkan produktivitas kerja yang tinggi.
Produktivitas sekolah mencakup proses kerja, sikap mental dan perilaku yang
selalu mempunyai pandangan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan harus lebih
berkualitas dan lebih efektif. Fremont dalam Koswara (2002:928) mengemukakan
bahwa, “Produktivitas diartikan sebagai ukuran efisiensi dalam penggunaan
sumber daya pada level masyarakat, organisasi dan individu. Produktivitas
sekolah berbeda dengan hasil produksi benda yang mudah dihitung atau diukur”.
Mulyasa (2004: 134) mengemukakan :
“Produktivitas sekolah berkaitan dengan bagaimana menghasilkan lulusan baik
secara kuantitatif maupun secara kualitatif, sehingga pada akhirnya diperoleh
lulusan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan
zaman”. Untuk menghasilkan produktivitas sekolah yang tinggi, diperlukan
inovasi pendidikan dan peran guru dalam pendidikan. Inovasi pendidikan dan
peran guru dalam pendidikan memberikan dampak terhadap peningkatan
produktivitas sekolah.
Inovasi (innovation) ialah suatu
ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal
yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa
hasil invention maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan
tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu (Danim, 2005:67).
Sementara itu kompetensi guru juga
berpengaruh terhadap produktivitas sekolah. Dalam Undang-undang No. 14 Tahun
2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan Kompetensi guru adalah “kemampuan
mengelola pembelajaran peserta didik”. Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi
ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini dapat dilihat
dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan
interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan
penilaian.
1.2. Tujuan
Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan
untuk mengetahui implementasi inovasi pendidikan dan kompetensi guru serta
pengaruhnya terhadap produktivitas sekolah.
1.3. Metode
Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan
metode tinjauan literatur (library
research).
2.
Uraian Teoritis
2.1. Inovasi
Pembelajaran
Istilah
inovasi (Latin: in + novare - make new) mengandung arti tindakan
menciptakan sesuatu yang baru yang membawa perubahan dengan menghasilkan gagasan
dan pendekatan atau metode baru. Untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yang
diharapkan lebih berdaya guna, tentu saja harus bertolak dari apa yang ada.
Sulit sekali memulai dan meningkatkan sesuatu dari sesuatu yang belum ada (ex
nihilo). Dengan adanya ke-cenderungan globalisasi dan keinginan untuk
menyesuaikan tuntutan kebutuhan serta aspirasi bangsa Indonesia di masa depan,
akan membawa implikasi terhadap perubahan-perubahan kebijakan, khususnya dalam
bidang pendidikan. Misi pendidikan nasional adalah menghasilkan insan Indonesia
cerdas dan kompetitif yang adaptable terhadap perubahan dan
kebutuhan stakeholders. Teknologi telah mengubah wajah dan peran
masyarakat modern. Menu inovasi saat ini adalah multimedia dengan kombinasi
teks, sound, animasi, dan elemen video sekarang sangat interaktif didalam
kelas-kelas.
Perubahan
dalam inovasi dapat berupa penggantian (substitution), perubahan (alternation),
penambahan (addition), penyusunan kembali (restructuring),
penghapusan (elimination), dan penguatan (reinforcement). Contoh
hasil inovasi adalah kantin jujur, pembelajaran anti korupsi, pembelajaran
PAIKEM, Manajemen Sekolah/ Madrasah bersertifikasi ISO, Unit Produksi Sekolah/
Madrasah dan lain-lain.
Pendidikan
dan pelatihan memiliki tugas termasuk di dalamnya menghasilkan dan
menyebarluaskan pengetahuan dan inovasi. Inovasi pada tataran kebijakan dan
regulasi penyelenggaraan pendidikan tidak hanya terfokus pada tataran praktis
dan teknis, tetapi pada tahapan kebijakan inilah sebenarnya yang sangat diperlukan
dalam rangka inovasi pendidikan bahkan pembelajaran. Di dalam Manajemen
Pendidikan, inovasi pembelajaran insan Indonesia cerdas dan kompetitif yang
adaptable terhadap perubahan dan kebutuhan stakeholders.
Teknologi telah mengubah wajah dan peran masyarakat modern. Menu inovasi saat
ini adalah multimedia dengan kombinasi teks, sound, animasi, dan elemen video
sekarang sangat interaktif didalam kelas-kelas.
Perubahan
dalam inovasi dapat berupa penggantian (substitution), perubahan (alternation),
penambahan (addition), penyusunan kembali (restructuring),
penghapusan (elimination), dan penguatan (reinforcement). Contoh
hasil inovasi adalah kantin jujur, pembelajaran anti korupsi, pembelajaran
PAIKEM, Manajemen Sekolah/ Madrasah bersertifikasi ISO, Unit Produksi Sekolah/
Madrasah dan lain-lain.
2.2. Inovasi
Manajemen Pendidikan yang Diperlukan
Menurut Prof. Azis inovasi berarti mengintrodusir suatu gagasan maupun
teknologi baru, inovasi merupakan genus dari change yang berarti perubahan.
Inovasi dapat berupa ide, proses dan produk dalam berbagai bidang. Contoh
bidangnya adalah : managerial, teknologi, kurikulum.
Selanjutnya juga
beliau menyatakan inovasi kemampuan seseorang untuk melakukan suatu penemuan
(bukan penemuan yang benar-benar murni baru), tapi penemuan yang berawal atau
terinspirasi dari penemuan sebelumnya sebagai landasan. Hasil konstruksi yang
diperolehnya dapat dipergunakan dalam berbagai kegiatan misalnya: salah satu
cara tenaga pendidik untuk menarik minat siswa didalam belajar geometri.
Kegiatan pembelajaran
tersebut dikemas oleh tenaga pendidik dengan melakukan berbagai inovasi dalam
proses pembelajarannya sehingga kegiatan pembelajarannya mencapai hasil yang
diinginkan. Peserta didik terbiasa berpikir menyelesaikan berbagai masalah,
bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan dan sebagainya, diharapkan
seiring dengan perjalanan waktu saat mereka menjadi bahagian dari sistem di
masyarakat secara utuh, mereka mampu apapun profesinya di masyarakat kelak
untuk menyikapi berbagai persoalan secara bijaksana.
Proses pencapaian
inovasi tersebut tidak didapat secara
instan tapi dari seorang pendidik yang mempunyai kemampuan tinggi dalam
penguasaan materi pelajaran, kemudian ditambah
pengalaman serta kecintaan terhadap profesinya menyebabkan ia mampu
meramu materi pelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik dan kondisi
masyarakat tempat sekolah itu berada.
Dengan demikian keberhasilan peserta
didik tidak bisa dilihat dari satu aspek hasil ujian saja, namun hal tersebut
bukan merupakan suatu solusi dari berbagai permasalaan yang ditimbulkan di
lapangan. Jadi dibutuhkan inovasi dari manajemen sekolah kalau menginginkan
kelak peserta didiknya menjadi orang pemikir bukan hanya pemakai.
2.3. Kompetensi
Guru
Menurut PP tentang Guru, bahwasanya
kompetensi pedagogik Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan
pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :
a. Pemahaman wawasan atau landasan
kependidikan. Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki
keahlian secara akademik dan intelektual. Merujuk pada sistem pengelolaan
pembelajaran yang berbasis subjek (mata pelajaran), guru seharusnya memiliki
kesesuaian antara latar belakang keilmuan dengan subjek yang dibina. Selain
itu, guru memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan
pembelajaran di kelas. Secara otentik kedua hal tersebut dapat dibuktikan
dengan ijazah akademik dan ijazah keahlian mengajar (akta mengajar) dari
lembaga pendidikan yang diakreditasi pemerintah.
b. Pemahaman terhadap peserta didik. Guru memiliki
pemahaman akan psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar
pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing
anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialami anak. Selain itu, guru
memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak,
sehingga dapat mengidentifikasi problemproblem yang dihadapi anak serta
menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.
c. Pengembangan kurikulum/silabus. Guru memiliki
kemampuan mengembangkan kurikulum pendidikan nasional yang disesuaikan dengan
kondisi spesifik lingkungan sekolah.
d. Perancangan pembelajaran. Guru memiliki
merencanakan sistem pembelajaran yang memamfaatkan sumber daya yang ada. Semua
aktivitas pembelajaran dari awal sampai akhir telah dapat direncanakan secara
strategis, termasuk antisipasi masalah yang kemungkinan dapat timbul dari
skenario yang direncanakan.
e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan
dialogis. Guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan
menyenangkan. Memberikan ruang yang luas bagi anak untuk dapat mengeksplor
potensi dan kemampuannya sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.
f.
Pemanfaatan teknologi pembelajaran. Dalam
menyelenggarakan pembelajaran, guru menggunakan teknologi sebagai media.
Menyediakan bahan belajar dan mengadministrasikan dengan menggunakan teknologi
informasi. Membiasakan anak berinteraksi dengan menggunakan teknologi.g.
Evaluasi hasil belajar. Guru memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pembelajaran
yang dilakukan meliputi perencanaan, respon anak, hasil belajar anak, metode
dan pendekatan. Untuk dapat mengevaluasi, guru harus dapat merencanakan
penilaian yang tepat, melakukan pengukuran dengan benar, dan membuat kesimpulan
dan solusi secara akurat.h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya. Guru memiliki kemampuan untuk membimbing
anak, menciptakan wadah bagi anak untuk mengenali potensinya dan melatih untuk
mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.
2.4.
Produksitivitas Sekolah
Produktivitas merupakan rasio antara
input (masukan) dan out put (keluaran) yang diperoleh. Masukan
dapat berupa biaya produksi, peralatan dan lainnya sedang keluaran dapat berupa
barang, uang atau jasa. Jika diterapkan pada pendidikan maka produktivitas
merupakan hasil segala upaya dari sekolah dengan menghasilkan kuantitas serta
kualitas siswa, dan pendidikan. Namun dalam pengertian keluaran atau hasil ini
cenderung pada kualtias keluasan. Demikian pula produktivitas di bidang
pendidikan/ sekolah menyangkut upaya peningkatan produksi. Sebagai sarana untuk
meningkatkan produksi di bidang pendidikan adalah “Ketenagaan,
kepandaian/keahlian, teknik pembelajaran, kurikulum, peralatan atau sarana
prasarana pendidikan sebagai sistem pendidikan” (Hasibuan, 2005: 128).
3. Pembahasan
Inovasi pembelajaran adalah suatu
hal yang baru dan dengan sengaja diadakan untuk meningkatkan kemampuan demi
tercapai suatu tujuan pembelajaran. Inovasi pembelajaran diadakan untuk
membantu guru dan siswa dalam menata dan mengorganisasi pembelajaran menuju
tercapainya tujuan belajar. Karenanya dapat dirangkai bahwa ada tujuan yang
menjadi akhir dari sebuah proses mengelola pembelajaran agar mencapai tujuan.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, ada tujuan-tujuan mendasar dari proses
pendidikan. Oleh karenanya jika disandingkan antara manajemen dan inovasi
pembelajaran sangatlah erat kaitannya. Pendidikan dalam hal ini adalah inovasi
pembelajaran memiliki tujuan, sedangkan manajemen mengelola agar mencapai tujuan.
Berdasarkan beberapa definisi
inovasi yang dibuat para ahli tersebut, dapat diketahui bahwa tidak terjadi
perbedaan yang mendasar tentang pengertian inovasi antara satu dengan yang
lain. Jika terjadi ketidaksamaan hanya dalam susunan kalimat atau penekanan
maksud, tetapi pada dasarnya pengertiannya sama. Semua definisi tersebut
mengemukakan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode,
cara, barang-barang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai suatu
yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat). Hal yang baru itu
dapat berupa hasil invensi atau diskoveri, yang digunakan untuk mencapai tujuan
tertentu atau untuk memecahkan masalah.
Kompetensi Guru merupakan
seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007
tentang Guru, dinyatakan bahwasanya kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru
meliputi kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi
Guru tersebut bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang satu sama
lain saling berhubungan dan saling mendukung.Kompetensi pedagogik yang dimaksud
dalam makalah ini yakni antara lain kemampuan pemahaman tentang peserta didik
secara mendalam dan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik. Pemahaman
tentang peserta didik meliputi pemahaman tentang psikologi perkembangan anak
sedangkan Pembelajaran yang mendidik meliputi kemampuan merancang pembelajaran,
meng-implementasikan pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran, dan
melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Produktivitas yang diharapkan terjadinya
peningkatan pengetahuan dan perilaku siswa menuju ke arah yang lebih baik
maupun peningkatan kuantitas. Di dunia pendidikan lebih cenderung ke
peningkatan kualitas atau mutu lulusan yang semakin tinggi. Dewasa ini
produktivitas individu mendapatkan perhatian cukup besar. Individu sebagai
tenaga kerja yang memiliki kualitas adalah ukuran untuk mengemukakan seberapa
jauh dipenuhi berbagai persyaratan, spesifikasi dan harapan. Kualitas berkaitan
dengan hasil yang dicapai dan proses produksi, hal ini mempengaruhi kualitas
hasil yang dicapai. Keluaran di bidang pendidikan meliputi berbagai upaya yang
terkait dengan peningkatan kuantitas out put, peningkatan kualitas out put,
peningkatan efektivitas kerja dan peningkatan efisiensi kerja. Smith dalam
Danim (1990: 45) mengemukakan bahwa, “Produktivitas dikaitkan dengan pemenuhan
kebutuhan. Pengertian tersebut dikaitkan dengan keberadaan guru, yaitu berupa
gaji dan penghasilan lainnya dari tempat kerja atau sekolah”.
4. Penutup
Implementasi inovasi pendidikan memiliki
hubungan yang positif dengan produktivitas sekolah. Artinya semakin baik
implementasi inovasi pendidikan, maka akan semakin baik produktivitas sekolah.
Kompetensi guru memiliki hubungan yang positif terhadap produktivitas sekolah.
Artinya semakin baik kompetensi guru, maka akan semakin baik produktivitas
sekolah. Implementasi inovasi pendidikan dan kompetensi guru memiliki hubungan
yang positif dengan produktivitas sekolah. Artinya semakin baik implementasi
inovasi pendidikan dan kompetensi guru, maka akan semakin baik produktivitas
sekolah.
Daftar Pustaka
Callahan and Clark.
1988. Ehancing Educational Opportunities for Disadvantaged Learners: Amesterdam
: Nort-Holland Publishing Company.
Danim, Sudarwan.
2005. Inovasi Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Hugget, 1985. Personal
and Human Resources Management, 5th Edition, St.
Paul: West Publishing Company.
Knowles, 1984 School
Effectiveness and The Devopment of Process Indicators of School Functioning in
school Effectiveness and School Improvement,1.pp.61-80.
Mulyasa,
E. 2002. Manajemen berbasi sekolah konsep, strategi, dan implementasi,
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, E. 2004. Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Saud, Udin. 2008. Inovasi
Pendidikan. Bandung: Gramedia.
Siahaan,
Amirudin, dkk, 2006. Manajemen berbasis sekolah. Jakarta, Quantum Teaching, cet. I.
Zaltman,
1973. Service Quality, Profitability,and the Economic Worth of Customers:
What We Know and What We Need to Learn. Journal of the Academy of Marketing
Science.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar